Bila saya teringat kata genduren, kenduri, atau genduri maka yang ada dibenak saya langsung merasakan kembali pada masa lampau, yaitu saat saya masih kecil hidup bersama dua saudara. Ada satu kenangan yang bener-bener saya ingat sehubungan dengan acara genduren ini.Maaf bukan saya (sok) mau sombong dalam memaparkan tentang ketiadaan secara materi (baca: kemelaratan) keluarga saya, saya hanya ingin berbagi dengan teman-teman tercintaku semuanya.Sewaktu kecil boleh dibilang sangat jarang sekali saya bisa menemukan wujud makanan dengan sajian yang membikin lidah ini serasa dimanjakan dengan berbagai macam menu nasi juga lauk pauknya. Bahkan pada satu ketika yang entah saya lupa itu terjadi tahun berapa, saya kecil dulu pernah benar-benar merasakan makan nasi jagung selama lebih dari setengah tahun lamanya. Sebagai selingan paling kita makan ubi kayu dan bahan makanan lain yang terbuat dari ubi kayu, seperti thiwul, gatot, dan yang lainnya. Mungkin hal itu akan terasa nikmat apabila kita lakukan sebagai selingan saja, namun akan berbeda banget rasanya apabila kita telah terbiasa dengan nasi sebagai bahan makanan setiap hari kita.
Hal ini terjadi dikarenakan musim hujan tak kunjung datang sementara panen padi terakhir hanya cukup dimakan untuk beberapa hari lamanya. Maklum meskipun dalam ijasah dituliskan status pekerjaan orang tua yang sebagai petani namun kenyataannya keluarga kami hanyalah keluarga yang pekerjaan setiap harinya berprofesi sebagai petani penggarap, artinya kita hanya menggarap lahan orang lain yang nanti pada akhirnya hasil panen bakal dibagi dua. Padahal biaya perawatan dan pengolahan sawah demi menanam padi itu tak berbanding seimbang dengan hasil parohan tadi. Itulah keadaan yang memang harus kami jalani.Dengan keadaan yang seperti itu, maka kami yang masih kecil ini akan sangat senang dan gembira sekali apabila "Bapak" diundang oleh kerabat ataupun tetangga untuk menghadiri acara "genduren".Pasalnya, dalam acara genduren itu nanti kami bakalan mendapatkan makanan enak yang dibawa oleh Bapak sepulang acara gendurenan berujud sega berkat/nasi berkat. Makanan itu berujud nasi dengan lauk-pauk yang ditaruh kedalam tempat yang biasanya tempat itu dibuat dari daun atau juga dari bambu (besek), hanya saja untuk saat ini ada juga yang menggunakan kotak (box) kertas sebagai pengemasnya. Itulah salah satu bentuk perkembangan dan kemajuan jaman (modern).Seperti terlihat pada gambar ilustrasi, selain nasi maka diatasnya akan ditaruh beberapa lauk. Jenis lauk-pauk tersebut yaitu tempe bacem goreng, telur rebus (bulet), pregedel, satu bagian ayam (biasanya paha), dan ada juga satu plastik yang diisi dengan satu krupuk, satu peyek, dan satu pethek (peyek ikan asin). Untuk jenis sayurnya ada sayur boncis, sayur kentang, sayur tempe, dan sayur kluwih (sejenis buah sukun).Selain itu ada juga sega gurih / sega wuduk (nasi uduk) yang dikasih sega golong/nasi bulat dan didalamnya situ biasanya juga dikasih sedikit bagian ayam kampung yang tadinya sebagai ingkung (ayam bekakak), ditambah pula dengan buah pisang dan atau lemper. Pada acara tertentu disediakan pula kolak, nasi ketan dan kue apem, semuanya ditaruh pada satu tempat dengan nama sudhi.Wujud makanan ini tak wajib harus ada semua namun disesuaikan dengan kemampuan yang mempunyai hajat gendurenan.Itulah pernik-pernik pada sajian genduren yang seringkali dulu saya harapkan. Belum juga waktunya Bapak pulang dari acara genduren, teringat sekali saya dulu selalu menunggunya, kadang karena saking nggak sabar saya juga sering melongok jalan yang bakalan ditapaki Bapak buat pulang menuju rumah.Dan setelah kepulangan Bapak dengan membawa sega berkat itu maka kami semua secara spontan tanpa disuruh langsung berkumpul mengerubungi besek berisi nasi berkat seakan semut mendapatkan gula.Seperti biasa Mamak (Simbok) mulai menyiapkan ompreng yaitu piring yang hanya terbuat dari sejenis blek/kotak tempat krupuk itu. Membagi-bagi nasi menjadi enam bagian, begitu juga lauk dan sayurnya. Oh ya enam bagian itu masing masing adalah bagiannya Bapak, Simbok, saya dan dua kakak saya. Satu lagi adalah mBah uti (nenek) saya.Semuanya dibagi, termasuk sepotong ayam, juga sebutir telur, sepotong pisang, dan juga lemper. Untuk itu saya sempet ingat banget waktu dulu rebutan potongan bagian telur itu dengan kakak perempuan saya, duuuuhhhh..... tak kuasa saya mengatakan apa saat ini...Dari hal seperti inilah saya sepertinya kok kurang setuju apabila ada yang terlalu menganggap budaya genduren ini sebagai budaya yang kurang pas, kurang berguna, menimbulkan bid'ah, dan lain sebagainya dalam tradisi beragama. Bisa dilihat khan bagi para keluarga yang kurang mampu, seperti yang saya ceritakan diatas...?Namun dari itu saya sama sekali tak memaksakan kehendak sebagian teman-teman yang memiliki pendapat seperti itu. Maafkan saya, karena ini hanya celotehan dari saya sebagai bahan untuk berbagi buat teman-teman semuanya, yang saya harap adalah manfaat setelah saya berbagi ini. Semoga saya bisa melanjutkan tentang genduren ini pada tulisan berikutnya... [uth] berlanjut disini...!!!
tak semua pertanyaan butuh jawaban
 | saya ndak isa komen soal hubungan tradisi dan agama tapi ke soal akrab dan rukun, khususnya dalam keluarga Trie... dijaga selalu silaturahim ya, le... upayakno sing akur, sing rukun, saling memaafkan apapun yang terjadi, jangan pernah putuskan tali silaturahim keluarga-batih amiin ya rabb...
|
 | iso cengengesan, yo iso seriyes kudhune lak ngono.. yo to?? |
 | oh, maksute aku, Trie aku kudhu pengerten kapan wektune cuwawakan kapan kudhu sariusan |
 | kelekmu kae...  |
 | huduuuuuuuuuuu..... aku wis nganggo reksona rong on kokkkk.... |
 | masalahnya... wis adhus po rung? |
 | tempe bacem goreng, telur rebus (bulet), pregedel, satu bagian ayam (biasanya paha), dan ada juga satu plastik yang diisi dengan satu krupuk, satu peyek, dan satu pethek (peyek ikan asin). Untuk jenis sayurnya ada sayur boncis, sayur kentang, sayur tempe, dan sayur kluwih (sejenis buah sukun) >> sumpah baru kemaren makan kluwih ini jadi kangen..
jadi inget kalu ada kenduri, kita semua menunggu2.. tapi ga ada tuh dijatah2 dibagi2 enam kaya ohtrie sekeluarga.. paling ku suka cuma nasiketanmerahputihnya itu loh.. kalu ayam jatah adik.. adik lain malah doyan kerupuk&rempeyek yang krauk2 gitu.. mama&babe jarang makan, buat anak2 saja.. lucu ya kebersamaan rasa berbagi ada dalam filosofi kenduri..
kalau ohtrie pernah makan nasi jagung lebih dari setengah tahunan, kita malah makan jagung+ubi+singkong gara2 beras jarang panen di sulawesi.. bertahun2.. tapi kog ya nikmat saja tuh.. orang sulawesi kreatif loh mengolah makanan.. jagung jadi biluhuta, milu siram.. singkong makan pake kuah ikan.. ubi dikukus cocol cabe terasi.. aaahhh jadi kangen.. |
 | ayuristina wrote on Apr 3, '10, edited on Apr 3, '10 sego kenduren yang selengkap ini aku temuin di jogja aja. Kalo tempatku ciamis porsinya lbh kecil tapi bisa dimakan semua karna ga ada pernik2nya, cuma nasi, sayur ma lauk
sedangkan nasi kenduri yang di jogja tu, nasi buletnya itu kalo nyampe rumah udah ga enak, keras, jadi suka dicuekin. Trus peyeknya atos, sama yang bulet2 kecil kaya klereng jg atos. Karna menurutku sekarang masayarakat jogja udah makmur, jadi kliatannya sega kenduren tuh ga sepenuhnya dikonsumsi manusia. Cnth tempatnya mas itu paling cuma diambil sega gurih, telur ma daging ayam,,, selebihnya jatah bebek. Tapi memang tidak bisa digampangkan juga dengan mengecap sbg hal sia2, karna kenduren ini juga bagian dari tradisi islam-jawa yang ga boleh punah.
tfs kisah masa kecilnya moga kita slalu bersyukur |
 | Menurut riset Andre Moller mengenai Islam Jawa atau Islam di Jawa, terutama Ramadan, salah satu cara Wali Songo mengislamkan Jawa adalah dengan mengambil alih tradisi Hindu/Budha, seperti sesajen menjadi kenduri yg dinikmati bersama-sama. Esensinya adalah untuk berbagi kebahagiaan dan mengharapkan agar doa yg ikut kenduren semakin banyak dan didengar Sang Kuasa. Kenduri diadakan untuk berbagai hal, mulai dari bayi lahir, sunatan, lulus sekolah, kawinan, sampai orang meninggal, 1000 hari, haul, dsb. Meski kenduri sejarahnya adalah pengambilalihan simbolik tradisi lama, tapi ini menjadi ciri khas Islam Jawa/di Jawa. Kenduri tak bisa ditemui di daerah atau negara Islam lainnya. Kalau sekarang misalnya orang Bugis atau Aceh ikut bikin syukuran, itu karena luasnya pengaruh Islam Jawa yg merasuki Orde Baru. Kenduri bid'ah? Kalau sesajen ya jelas bid'ah. Kalau yg memimpin doa adalah dukun, ya itu bid'ah. Kalau yg memipin doa itu kang Marto, artinya kita pantas bersyukur karena ada domba sesat yg telah bertobat hehehe |
 | huwa huwa huwa kalo gambaran ini ya gw setuju banget dengan kendurian, yang gw sorotin adalah orang nggak mampu secara finansial buat kendurian tapi tetep ngoto ngadain kendurian walopun dia harus ngutang sana sini, itu yang menurut gw kurang tepat , soalnya nanti empunya hajat akan lebih sengsara dan kebelit rentenir kelar kendurian.
Kalo masalah kendurian itu kudu diomongin dalam skope adat istiadat bukan dari sudut agama karena akan gak nyambung |
 | mengambil alih tradisi Hindu/Budha  jangan terlalu men-judge satu aliran tradisi lho Mas... Karena ada satu pernyataan : "Dalam agama Hindu atau Budha tidak dikenal kenduri dan tidak pula dikenal peringatan orang mati pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000," katanya pada seminar internasional, "Cheng Hoo, Wali Songo dan Muslim Tionghoa Indonesia di Masa Lalu, Kini dan Esok" yang digelar Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo dan PITIselengkapnya bisa lihat di link ini Mas... http://www.antara.co.id/view/?i=1209299459&c=NAS&s= |
 | Awake ra karu2an sirahe perih ning ra teyeng2 merem :( |
 | lu lagi mriyang opo sih ndul ampe pamit2 segala kemarin |
 | Aku dadi kelingan jenate mbah Pringgo: aku wis tau konangan lagi menek rambutan dialok: aja penekan! Tibaaaa! Mati!!! Gendurenn hahaha malah dina liyane sing genduren mbah Pringgo wedok. Hahaha aku ki malati je |
 | ohtrie wrote on Apr 3, '10, edited on Apr 3, '10 cepetannn turuuuuu...!!!!
|
 | klo M pasti seneng.. soalnya klo dapet 'berkatan' kita jadi bisa maem kepungan dirumah.. |
 | *toosss  klo nasi berkatan , kudu dikepung.. di taro dinampan semua..klo nggak ya di kerdusnya itu langsung.. diserbu serumah.. pasti abis dan nikmaaatt... tp klo ga kepungan gini biasanya malah ga abis... |
 | Tri, baca baik-baik yg sudah aku tulis. Menurut Andre Moller kenduren berasal dari tradisi semacam sesajen ke dewa Hindu/Budha, yg kemudian diambil alih oleh Wali Songo dg bentuk baru, untuk syukuran dalam berbagai kesempatan.
Inyong, ada saudaraku yg beli motor Minerva dari tetangganya orang Betawi yg terlilit utang pasca mengawinkan anaknya. Lumayan diskon 50%. |
 | haessssssssss ,,,,,,, ra doyan ...................... besek-e |
 | ohtrie wrote on Apr 3, '10, edited on Apr 3, '10 pasca mengawinkan anaknya  kalo ini kelilit utangnya berarti karena acara pesta pernikahan anaknya khan Mas.. bukan karena kenduri taa...? wontuno.... :) |
 | mbiyen ki kang, nek nyong dikon kendurren sering males , ning nek bapak dawuh kenduren tak neng ke wae nganti bapak nindak i dewe.. bar kui nek wis bapak tindak, aku njur melu, ben takir e loro |
 | kampungku ngertine istilah "bancakan" adahe besek koyok nang gambarmu kuwi. nek neng ndeso nganggo dhong gedhang, ukurane luwih cilik jenenge "takiran".
mbiyen gak usum mbengok "amiiin", tapi "kabul niateeee". |
 | Desa mawa cara negara mawa tata mau kok mBahhh... Bancakan nek nang nggonaku berarti makan ditemat scr rame rame. Nggak ada berkat yang dinawa pulang.
Nek takiraan bener luwih cilik, tapi khusus kanggo wong pas abis meninggal, nuwun |
 | Dari hal seperti inilah saya sepertinya kok kurang setuju apabila ada yang terlalu menganggap budaya genduren ini sebagai budaya yang kurang pas, kurang berguna, menimbulkan bid'ah, dan lain sebagainya dalam tradisi beragama. Bisa dilihat khan bagi para keluarga yang kurang mampu, seperti yang saya ceritakan diatas...?  aku se-aliran karo kowe Trek nek bab iki Kenduri, Bancakan, buatku sarat makna, esensi berbagi, kebersamaan, toleransi dan gotong royong dulu, ketika tetangga repot mau mengadakan kenduri, pasti kanan kirinya mengulurkan tangannya membantu, teman atau kerabatnya juga, ada yang nyumbang telor, sekedar gula kopi, daun pisang atau cuman tenaga, hal yang tidak akan pernah tergantikan melestarikan budaya atau tradisi, tentu berbeda dengan menjalankan apa yang menjadi Iman yang kita percayai, seharusnya di pilah lah, wong juga bukan sesuatu yang bersifat menduakan Tuhan atau musyrik pun begitu, kita memang tidak bisa lepas dari peran inkulturasi dalam perkembangan agama di Indonesia
|
 | ohtrie wrote on Apr 5, '10, edited on Apr 5, '10 aku se-aliran karo kowe Trek nek bab iki Kenduri, Bancakan, buatku sarat makna, esensi berbagi, kebersamaan, toleransi dan gotong royong dulu, ketika tetangga repot mau mengadakan kenduri, pasti kanan kirinya mengulurkan tangannya membantu, teman atau kerabatnya juga, ada yang nyumbang telor, sekedar gula kopi, daun pisang atau cuman tenaga, hal yang tidak akan pernah tergantikan melestarikan budaya atau tradisi, tentu berbeda dengan menjalankan apa yang menjadi Iman yang kita percayai, seharusnya di pilah lah, wong juga bukan sesuatu yang bersifat menduakan Tuhan atau musyrik pun begitu, kita memang tidak bisa lepas dari peran inkulturasi dalam perkembangan agama di Indonesia  sip Matur nuwun bangeet Yu There....
hal yang saya kemukakan karena latar belakang keluargga yang multi-religi, namun kita tak pernah mempertunjukkan keistimewaan kita masing-masing apalagi atas dasar sebuah perbedaan keyainan.
Yu There wis urip karo wong akeh, bergaul dengan banyak orang yang tentu saja juga memiliki banyak sifat. tak cuma berkutat pada satu kulture, keyakinan, bahkan satu negara. Kurasa lebih paham tentang hal ini khan... Bener kata sampean satu esensi berbagi, kebersamaan, toleransi dan gotong royong pasti sudah sangat susah sekali dijumpai di tempat/negara lain. Dan justru dari situ kebanyakan dari kita bisa memaknai arti sebuah budaya sendiri. Salah satu contohnya Ada temen di Belgi cerita mengenai hal serupa. Semoga dia membaca hal ini...
Matur nuwun Yuuu..... mwuachhhh |
 | iya...di Medan nggak ada nih yang beginian... standar medan tuh nasi Padang, hehe...
you berhasil made me ngiler---hihi |
 | kalo sering yaa bosyeen atuh... *sedangkan masak dewe itu ribet en suami yg orang banjarmasin gak begitu enjoy makannya... |
 | nah ini yg aq blg sm pak beca .. aq kangen sego kenduri.. ning ra tau di undang kenduren ...
nasiib... |
| |