Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

maztrie™ngeblog | kanca iku donga




Blog EntryApr 13, '10 5:02 PM
for everyone
PAMONG. Sebuah kata yang awalnya dulu saya ketahui sebagai istilah untuk menyebutkan Bapak-Bapak atau Ibu-Ibu Pegawai kelurahan. Ada Kepala Desa yang juga disebut sebagai Pak Lurah, ada Sekretaris Desa yang dipanggil Pak Carik, dan masih banyak perangkat pegawai-pegawai bawahannya. Semua yang bekerja di Kantor Kelurahan itu adalah para Pamong Desa. Secara jelas saya tak begitu paham tentang asal muasal kata pamong yang dikenakan oleh para punggawa pemerintahan tersebut.
Namun setelah mengenyam bangku sekolah, justru saya sempat mendapatkan satu pelajaran yang membahas masalah kata Pamong itu tepatnya adalah saat belajar mengenai satu mata pelajaran yang menyangkut tata krama dan sopan santun sebagai anak-murid. Pelajaran Kesiswaan namanya, yaitu satu pelajaran yang mirip dengan pelajaran Ke Taman-Siswaan nya Ki Hadjar Dewantara.

Pamong menurut Ki Hadjar Dewantara bisa diartikan sebagai Pengasuh, karena kata Pamong ini mengandung kata asal dari kata dasar (ater-ater) among yang artinya mengasuh. Dengan dasar yang seperti itu maka semua guru yang berada dilingkungan pendidikan ber-Yayasan Taman Siswa selalu dinamakan Pamong sebagai pengganti Guru, sementara panggilannya pun lebih disarankan untuk memanggil KI atau Nyi sebagai pengganti Bapak atau Ibu.

Saya pikir bukan tanpa alasan hal ini diterapkan, mengingat latar belakang Ki Hadjar Dewantara yang sebenarnya adalah seorang ningrat dengan nama asli Soewardi Soeryaningrat  saja, apabila kita tilik dari namanya tersebut (yang beliau lebih menyarankan untuk menyebutkan dengan julukan Ki Hadjar dewantara) artinya beliau tak mau terlalu dipandang ningrat oleh rakyat jelata. Beliau tak hanya mau dipandang sebagai seorang tenaga pengajar, lebih dari itu beliau bersedia untuk menjadi tenaga pengasuh alias Pamong.

Pada awalnya tujuan mendidik adalah membikin siswa itu yang dari tidak tahu terus menjadi tahu. Bukan terlalu utama untuk menjadi pintar, disinilah fungsinya mengasuh. Seorang pendidik tak hanya berhenti pada satu tugas bahwa apabila telah menyampaikan materi pelajarannya lalu bebaslah tugasnya, bukan itu.... Melainkan para Pamong ini juga musti memiliki rasa untuk terus selalu bisa mengasuh dan ngemong para siswa yang nggak tahu menjadi tahu, yang keblinger menjadi bener.  Sehingga kalaupun sudah bener adan akhirnya pinter pun bukan semata-mata kepintarannya itu hanya bertujuan untuk minteri.

Beberapa tingkatan pendidikan yang sempat juga digariskan oleh beliau, Ki Hadjar Dewantara. Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani. Bahwa terjadi tiga tingkatan dalam satu ajaran mendidik hakikat keadaan kita sebagai manusia ini, Di depan menjadi Contoh, Ditengah mampu bersama-sama memberikan sebuah karya baik, dan dibelakangppun wajib memberikan semangat buat yang didepannya.Jelas sudah sebenarnya khan jika semua tempat pun diharapkan mampu memberi satu sumbangsih demi kemajuan bersama. Selain itu bisa juga didefinisikan bahwa dengan tiga tingkatan  itu ada Cipta (Kognitif) yang disini diharapkan bisa tahu hal-hal apa saja yang belum diketahui, selanjutnya Karsa (Konatif) adalah mampu mengerti apa yang pernah diketahui dalam cipta sebelumnya, dan yang ketiga adalah Rasa (efektif), mampu merasa dan memahami tentang garis garis kehidupan ini.

Ingat...! Yang terakhir dalam proses belajar adalah bisa mencari makna (rasa) dan mampu memahami apa-apa yang ada dalam hati ini. Bukan Pinter lalu Minteri....!!!

Berbicara tentang Pamong, Sungguh teramat timpang melihat apa yang sedang kita hadapi akhir-akhir ini, yaitu mengenai gegap gempitanya berita Korupsi yang melanda negeri kita ini, sungguh miris saya melihat keadaan sakit yang sedang dialami oleh Ibu Pertiwi ini. Para perangkat Negara yang seharusnya berlaku sebagaimana Pamong, yaitu yang ngemong dan mengasuh rakyat kecil justru malah membohongi rakyat kecil. Mau mungkir darimana kalau ada pernyataan bahwa bangsa kita adalah bangsa korup...? Sebenarnya saya hanya mau diam dan tak menanggapi karena apa daya orang tak berkekuatan seperti saya ini. Toh kalaupun bersuara pun bakalan langsung tereliminasi. Namun semoga dengan coretan (nggak jelas) ini saya pun nanti bakalan lega karena telah menyampaikan uneg-uneg yang ada dihati. Setidaknya dapat kita ketahui tentang sebuah pemaknaan yang dangkal dari satu pemahaman para penyandang gelar tinggi pada elit bangsa ini dalam memahami peranannya bagi kemaslahatan umat.

Satu cerita tentang sarah dari mBak Irma (sila ceklik linknya) seorang sahabat tercintaku yang sekarang tinggal di Negeri Paman Sam, negeri yang notabene banyak dibenci oleh kaum mayoritas di Negeri kita ini . Sengaja saya hadirkan sebagai bahan perenungan bersama, semoga kita bisa mengasah tingkat pemahaman yang ada ini. Bukan kebenciaan yang kita tanam, melainkan asah asih dan asuh....
  • Sarah tidak bekerja karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan. Kalau tidur, ia pakai alat bantu oksigen karena nafasnya bisa berhenti sewaktu-waktu. Kedua anak laki-lakinya menderita autisme, yang pertama lebih parah dari yang kedua.
  • Karena tidak bekerja, Sarah mengandalkan tunjangan dari mantan suaminya dan juga tunjangan dari pemerintah. Untuk biaya kesehatan anaknya, ia cukup beruntung karena pemerintah negara bagian kami menanggung asuransi kesehatan untuk semua anak di bawah 18 tahun.
  • Saat itu musim dingin dan aku sempat berbincang dengan Sarah lewat YM. Dia bilang padaku bahwa mesin pemanas rumahnya rusak. Membayangkan menggigitnya udara musim dingin, aku tawarkan padanya utk membelikan portable heater. Dia menolak. Katanya, "Kami masih tidak apa-apa. Kami nyalakan oven untuk menghangatkan ruangan. Besok adikku datang untuk membetulkan heaternya."
  • Saat obrolan kami merambah pada berita terbaru dari tanah airku, aku ceritakan sekilas tentang wabah busung lapar, tanpa maksud apa-apa. Sarah langsung berkata: "Nanti kalau kamu pulang ke negrimu, aku titip sedikit uang ya untuk mereka. Kamu yang lebih tahu lembaga apa yang bisa dipercaya."
  • Aku terkesiap. "No Sarah, you don't have to do that. Mendingan kamu simpan saja untuk kebutuhan kamu sendiri." Sarah dengan mantap bilang begini: "Saya masih punya rumah (a roof over my head) dan juga masih bisa makan. Kami tidak akan mati kelaparan seperti anak-anak malang itu. Kami masih lebih beruntung dan mereka lebih membutuhkan."
Sungguh sangat mulia jiwa seorang Sarah yang kebenarannya tak pernah mengenyam satu pelajaran tentang budipekerti ala Pancasila.

Bisa kita bandingkan dengan ulah para koruptor yang sepertinya dengan enak hati tak bisa memahami keadaan rakyat kecil di negeri ini. Benarkah mereka itu orang-orang pintar dengan seabreg gelar....? Tepatkah kalo mereka itu kita sebut abdi Rakyat yang bermartabat.....? Ataukah hanya seonggok perkakas berbentuk manusia namun pandai mengelabuhi dan minteri.....? Yang seperti ini yang sepatutnya musti kita basmi...!

Selanjutnya pembelajaran untuk tahu, diteruskan mampu mengerti, dan serta mengarah untuk bisa memahami semoga tetap kita terapkan pada kehidupan ini. [uth]

Illustrasi: understand

tak semua pertanyaan butuh jawaban

49 CommentsChronological   Reverse   Threaded
amaltiagunawan wrote on Apr 13, '10
Ndengaren Supreh dilereni dadi lakon
ohtrie wrote on Apr 13, '10
Ndengaren Supreh dilereni dadi lakon
kuwi giliran sesuk dulll...
ku saiki ngantuk jee.... turu yokk....
depingacygacy wrote on Apr 13, '10
Sekarang nyari sosok guru yg jg pamong susah bgt mas :-(
amaltiagunawan wrote on Apr 13, '10
atu haluk seganeee,,,,ngelihhhh
nadanusantara wrote on Apr 13, '10
pirang2 ndino nulis serius terussssss....
ohtrie wrote on Apr 13, '10
Sekarang nyari sosok guru yg jg pamong susah bgt mas :-(
Ya gitu dech mBak.. Pahlawan tanpa tanda jasa tuh dah nggak pas lagi kita sematkan pada Guru kebanyakan keknya dechhh
ohtrie wrote on Apr 13, '10
atu haluk seganeee,,,,ngelihhhh
ora olehhhh, kowe isih dalam rangka diet ataaa...?
ohtrie wrote on Apr 13, '10
pirang2 ndino nulis serius terussssss....
mumpung isih esuk mBak Tiwi....
bunkam wrote on Apr 13, '10
pamong anyaran=tukang gusur
ohtrie wrote on Apr 13, '10
bunkam said
pamong anyaran=tukang gusur
ohh kuwi satpol pepe ta Dabb...? kantib....
bunkam wrote on Apr 13, '10
satuanpolisi pamong praja
ohtrie wrote on Apr 13, '10
bunkam said
satuanpolisi pamong praja
ho'ohh, satpol pepe......
rirhikyu wrote on Apr 13, '10
absen Kang...
pamong
pinter minteri
cipta karsa rasa

tfs bro
ohtrie wrote on Apr 13, '10
absen Kang...
pamong
pinter minteri
cipta karsa rasa

tfs bro
catettt,.....
wis ngantor pa mBak...?
rirhikyu wrote on Apr 13, '10
ohtrie said
catettt,.....
wis ngantor pa mBak...?
udah lahhh
masuk stgh 8 koq
ohtrie wrote on Apr 13, '10
udah lahhh
masuk stgh 8 koq
oh kupikir jam 9 je mBak.....
sip sip silahkan mbak, sugeng makarya....
amaltiagunawan wrote on Apr 13, '10
slepet sisan!!
ohtrie wrote on Apr 13, '10
slepet sisan!!
wakakakka.... nek iki aku njuk kelinan mBah Kung Jerman lho Dulll....
amaltiagunawan wrote on Apr 13, '10
yo, mulai sekarang digalakkan emoticons meneh wakakka mengingat masa kejayaan empe
ohtrie wrote on Apr 13, '10
yo, mulai sekarang digalakkan emoticons meneh wakakka mengingat masa kejayaan empe
<IipSmiley><IipSmiley><IipSmiley>
nggambleh wrote on Apr 13, '10

amaltiagunawan wrote on Apr 13, '10
aja emoticons sing ngono ah,,,,,,ndhak ambene ambrol kepancal terus
nggambleh wrote on Apr 13, '10
aja emoticons sing ngono ah,,,,,,ndhak ambene ambrol kepancal terus
lha wong mlenggak kok ya oyehhhhhhh ...... golek liyane ya ana
penuhcinta wrote on Apr 13, '10
Terima kasih Trie. Ndak bisa berkata apa2.
ohtrie wrote on Apr 13, '10
Terima kasih Trie. Ndak bisa berkata apa2.
sama sama mBak..... kembali kasih juga yakk...
amaltiagunawan wrote on Apr 13, '10
wandamu trek
ohtrie wrote on Apr 13, '10
wandamu trek
psstttt aja crigis aku lagi pingin seriyes iki. bwihihihii....
amaltiagunawan wrote on Apr 13, '10
trek, PM ke nomor hp ne mbak tere, meh tak telpon
ohtrie wrote on Apr 13, '10
trek, PM ke nomor hp ne mbak tere, meh tak telpon
wegyahhh, nembunga dheweee.....
zakia3ana wrote on Apr 14, '10
terharu dg kisahnya sarah @@
ohtrie wrote on Apr 14, '10
terharu dg kisahnya sarah @@
yups, sama Naaa....
tintin1868 wrote on Apr 14, '10
aahh kenalin dong sama sarah..
martoart wrote on Apr 14, '10
Pamong lagi senang ngosak asik wong cilik.
makam di Koja, n penghidupan China Benteng dihajar.

Pamong Praja kok koyok kumpulan kirik.
jatiagung wrote on Apr 14, '10
Pamong Praja kok koyok kumpulan kirik.
sundul quote ini ajah biar di atas lagi...
ohtrie wrote on Apr 14, '10
@mBak Tin:langsung ke mBak Irma kenalannya ya mbak
@mBa Marto; pamong edan lan keblinge tenan kuwi mau ta mBahhhh...
@Agung: cendol juga gannn...!
bunkam wrote on Apr 15, '10
ohtrie said
ho'ohh, satpol pepe......
hehe...pp=pulang pergi....pergi dengan gagah pulang bonyok2
ohtrie wrote on Apr 15, '10
bunkam said
hehe...pp=pulang pergi....pergi dengan gagah pulang bonyok2
malah mokek ngono lho Dabbb... mesakke tenan taa....
roebyarto wrote on Apr 15, '10
ohtrie said
Ya gitu dech mBak.. Pahlawan tanpa tanda jasa tuh dah nggak pas lagi kita sematkan pada Guru kebanyakan keknya dechhh
pameo tanpa tanda jasa sudah dirubah kok mas..
guru pahlawan dengan tanda jasa..
roebyarto wrote on Apr 15, '10
Cerita Sarah diatas sungguh membuat saya menitikkan air mata... bukan pada penderitaan Sarah.. tetapi sikap dan prilaku pamong kita yang tidak memiliki hati nurani...padahal sejak TK sampai PT telah diwajang dgn norm dan etika...dan
Pancasila dianggap kode buntut (togel)
ohtrie wrote on Apr 15, '10
norm dan etika...dan
Pancasila dianggap kode buntut (togel)
norma, etika dan pancasila sepertinya hanya dijadikan syarat satu perjalanan memperoleh jimat berujud gelar dan ijazah waktu itu kok Mas...
penuhcinta wrote on Apr 15, '10
Pas nulis ini kasus Priok sudah kejadian belum sih Trie? Perasaan sebelum ya? Kok pas banget. Pas mbahas tentang pamong, eh kasus Satgas PP.
ohtrie wrote on Apr 15, '10
Begitu malemnya nulis ini, pagi harinya tragedi mBah Priok tetjadi
rikejokanan wrote on Apr 17, '10
ketika seorang bayi tertawa atau tersenyum sendiri, ibuku akan berkata "kuwi dikudang pamong-e, Ndhuk..."
ohtrie wrote on Apr 17, '10
Oh nek nanggonaku istilah itu bukan pamong mBakN rewang... "Kuwi lagi geguyon karo rewange Lee.."
Nuwun ya mBak, piye kabar sampean..?
rikejokanan wrote on Apr 27, '10
sae, Mas Utroq...
ohtrie wrote on Apr 27, '10
sippppp....
ayok nang Gramed WTC mbakkk, bar Maghribbb....
nggambleh wrote on Apr 28, '10
ohtrie said
Begitu malemnya nulis ini, pagi harinya tragedi mBah Priok tetjadi
helehhhhhh ....... crit ...... kaya resi wae, ngerti sak durunge dipathak ...... wkekekekekekek
ohtrie wrote on Apr 28, '10
helehhhhhh ....... crit ...... kaya resi wae, ngerti sak durunge dipathak ...... wkekekekekekek
<IipSmiley><IipSmiley><IipSmiley><IipSmiley><IipSmiley>
nggambleh wrote on Apr 29, '10
wong edan
Add a Comment