Tinemune wong ngantuk anemu kethuk, Malenuk samargi-margi, Marmane bungah kang nemu, Marga jroning kethuk isi, Kencana sesotya abyor. Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil),yang berada banyak dijalan. Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut isinya tidak lain emas dan kencana.
Tulisan diatas adalah sebuah serat yang ditulis oleh Pujangga besar ditanah Jawa, Raden Ngabehi Ranggawarsita. Termasuk dalam Serat Jaka Lodhang yang ketiga. Sebuah karya yang secara garis besar tercipta berdasar pada perenungan yang sempat dilakukan oleh sang Pujangga, sehingga bisa tahu sebelum kebanyakan orang lain diberikan pertanda, Ngerti sakdurunge winarah kalau istilah Jawanya. Berturut-turut dari Serat Jaka Lodhang yang pertama sampai dengan yang ketiga ini menurut pemahaman saya juga menceritakan tentang kejadian kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh pihak-pihak penguasa hingga akhirnya keadilan atas kemerdekaan itu dapat kita raih pada tahun 1945 Masehi atau 1877 Tahun Jawa, Wiku Sapta ngesthi Ratu. (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1)
Menyimak sebuah karya sastra, tak dapat kita pungkiri apabila hasil karya dari seorang pujangga itu pada dasarnya di ilhami dari satu bentuk perenungan yang bukan saja sekedar aksi diam tanpa makna. Namun sebaliknya, justru hati dan pikiran selalu diatur dalam diam itu sehingga akan mengalirkan sebuah bentuk perenungan yang hidup dalam konteks sosial masyarakat yang ada. Secara tidak langsung hasil karya ini bisa kita katakan sebagai satu kesaksian atas sejarah yang pernah dibuatnya.
Begitu juga perjalanan yang sempet saya alami sewaktu kecil dulu, apabila teringat kata-kata pada bait ketiga Serat Jaka Lodhang diatas, maka hal yang sering saya ingat adalah kata "kethuk". Kethuk adalah satu jenis perangkat gamelan yang ditabuh mirip gong, hanya saja kalau gong itu keberadaannya digantung dengan seutas tali, tidak demikian halnya dengan kethuk. Kethuk ditaruh layaknya kenong atau bonang.
Thenguk-thenguk entuk kethuk, yach kata-kata ini saya ingat kembali sehubungan dengan serat ketiga pada Jaka Lodhang diatas. Pernah suatu waktu guru yang mengajar seni Karawitan dulu memberikan petuah, bahwa janganlah kita-kita ini hanya duduk berpangku tangan dan melamun saja seolah mengharapkan bakalan ada anugerah yang datang sebagaimana memperoleh kethuk. Aja sira thenguk-thenguk entuk kethuk, janganlah kamu hanya duduk-duduk bermalas-malasan mengharap kethuk.
Karena berprofesi sebagai penabuh gamelan yang terkadang juga (menurut kebiasaan Orang Jawa) selalu disertai dengan "ilmu linuwih", maka saat itu beliau pun sambil memberiikan petuah atau wejangan juga acapkali memberikan contoh menyangkut keberadaan penguasa. Tabiat penguasa baik itu yang baru sebatas menguasai sebidang tanah ataupun bagi mereka yang sudah berkuasa atas berdirinya Pemeritahan ini apabila telah duduk diatas dampar kebanyakan sudah lupa asal-usulnya . Sifat lupa itulah yang pada akhirnya memupuk perbuatan atau laku 'thenguk-thenguk entuk kethuk' itu. Dan karena terlalu terbiasa maka akhirnya juga bisa mendarah daging dan berkerak dihati serta otak dari kebanyakan para penguasa itu.
Tak usah menutup mata, sudah dengan terang-terangan sampai dengan waktu sekarang ini saja telah mampu kita saksikan bahwa masih banyak punggawa yang seharusnya memegang amanat rakyat ini justru malah membohonginya. Bagaimana tidak, hanya dengan thenguk-thenguk saja mereka ini bisa meraup keuntungan yang bisa diibaratkan seharga kethuk berisi emas dan permata.
Sebagai seorang jelata kita sungguh hanya baru bisa sebatas menyesalkan keadaan atas sebuah perjuangan kemerdekaan ini, kenyataan yang ada dapat kita lihat pada akhirnya kemerdekaan itu baru bisa dinikmati oleh sebatas orang-orang yang (sok) kuasa, masih susah untuk dinikmati oleh kaum yang lemah.
Melihat keadaan yang ada tak menutup kemungkinan bakalan timbul satu pertanyaan pada otak kita menanggapi tabiat para penguasa laknat tersebut, "jika kethuk saja mereka makan, bagaimana dengan bonang, kenong, kempyang, apalagi gongnya..?" Sangatlah wajar pertanyaan itu timbul, namun sebaliknya, semoga kita tak terpancing pada satu dasar pemikiran yang ada karena pada dasarnya toh hanya akan menggeret kita juga pada keadaan sama dan serupa. Sebaliknya, hal terbaik pada wejangan 'aja sira thenguk-thenguk entuk kethuk' masih mampu kita terapkan dalam peri-kehidupan rakyat jelata ini. Semoga....... [uth]
Illustrasi: kethuk ____________________________________________________________________
Selengkapnya mengenai Serat Jaka Lodhang Megatruh 1. Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu, Jaka Lodang nabda malih, Nanging ana marmanipun, Ing waca kang wus pinesthi, Estinen murih kelakon - Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih. Kemudian Joko Lodang berkata lagi : “Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab, didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya segera dan dapat terjadi “.
2. Sangkalane maksih nunggal jamanipun, Neng sajroning madya akir, Wiku Sapta ngesthi Ratu , dil parimarmeng dasih Ing kono kersaning Manon - Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman. Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1). Bertepatan dengan tahun Masehi 1945. Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.
3. Tinemune wong ngantuk anemu kethuk. Malenuk samargi-margi Marmane bungah kang nemu, Marga jroning kethuk isi, Kencana sesotya abyor - Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil) yang berada banyak dijalan. Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut isinya tidak lain emas dan kencana.
tak semua pertanyaan butuh jawaban
 | nonton wayang tenguk tenguk di antem kethuk |
 | Sik trek...tak golekne tempolong...sisan le entuk dit....ning lambemu le ngowoh kurang amba!! Wis gek wis!! Pojokan prapatan kono! Ndheprok! |
 | pusing liatin berita berseliweran.. pada kemana siih janji2 kampanyenya.. |
 | Sik trek...tak golekne tempolong...sisan le entuk dit....ning lambemu le ngowoh kurang amba!! Wis gek wis!! Pojokan prapatan kono! Ndheprok!  |
 | wis ah, turu meneh aaaahhhh |
 | Semestinya upaya memimpin diri sendiri jangan pernah berhenti, sehingga jika diberi amanah memimpin yang lain akan lebih mawas diri. Keselek...gak pantes ya aku jd sok bijak sana bijak sini..he..he..he. |
 | ohtrie wrote on Apr 18, '10, edited on Apr 18, '10 |
 | Lha nek thenguk2 entuk bawuk ditolak gak trie? |
 | Eniwei, tampilan home page mu iki paling keren timbang sakdurunge! |
 | Lha nek thenguk2 entuk bawuk ditolak gak trie?  |
 | Thenguk thenguk ngantuk nemu gendhuk ya wis mathuk , wis minuk minuk,nggawa gethuk ya aku ya mung manthuk manthuk |
 | Thenguk-thenguk sambil makan jeruk garuk-garuk trus ingak inguk mulkipluk,,, |
 | nek cilik jenengen pringsilan Ndul  |
 | M ki ngertine majalah boso jowo "jaka Lodhang" |
 | haha iyah.. jagading lelembut...
ya suk nek gek mudik.. sempetke bersih kang.. |
 | wajib kui... jare sasi ngarep.. |
 | Ora janji nek kudu kon nang Magelang, saiki wis ra kuat nggo motor adoh2 je mbak... |
 | M yo ra kuat nggo motor adoh².. cedak wae yo ra kuat.. kuate nek numpak'i... |
 | ampun kang.. ojo dikeplak'i tho... kesel ki nek kon mlayu²..
kok wes tangi kang.. |
 | minggu² kok akeh gawean.... mesaake... mending turu wae.. *siyap² mapan... |
 | kalu cuma bonang doang, jadi ga harmonis ya.. kudu gamelan lengkap.. |
 | Musti lengkap mbakkk... Dan paling mantep kalo ada gong nya |
 | aku paling ra iso nek dikon main bonang, mesthi ancur |
 | njuk pingine nabug gong thok ya Kang Priyaaa...? ;) |
 | hihihi... lha aku mbiyen ya ngono jee..... |
| |