Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

maztrie™ngeblog | kanca iku donga




Blog EntryAug 31, '08 11:35 AM
for everyone

        Padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip

        Aja pijer dhahar nendra, kaprawiran den kaesthi

        Pesunen sarinira, sudanen dhahar lan guling

        Dadio lakunireku, cegah dhahar lawan guling

        Lan aja sukan-sukan, nganggoa sawatawis

        Ala watake wong suka, nyuda prayitnaning batin

Adalah sepenggalan syair dari tembang kinanthi, yaitu salah satu bagian tembang dari Serat Wulang Reh yang sebenarnya semua terdiri dari 13 bagian. 

Wulang reh adalah Serat yang ditulis oleh Sri Pakubuwana IV, beberapa ratus tahun yang lalu. Wulang berarti Pelajaran sedangkan Reh adalah Pemimpin. Jadi menurut pemahaman saya Wulang Reh mempunyai Definisi sebagai "Pelajara menjadi seorang pemimpin"

               Asahlah hatimu, agar bisa memahami rahasia hidup

          Jangan banyak makan dan tidur, tujulah kesempurnaan

          Latihlah dirimu, kurangi makan dan tidur

          Tempuhlah jalan ini, mengurangi makan dan tidur

          Janganlah menuruti keinginan, tetaplah sederhana

         Apabila menuruti keinginan, itu akan mengurangi

          kesadaran  diri
 

Batin akan tumpul disebabkan oleh keinginan yang timbul dari pikiran kita yang liar. Dan bila batin telah tumpul, maka ia tak akan pernah dapat memahami tentang rahasia alam dan pertanda hidup. Jadi sebagai manusia kita tidak mengerti akan makna dari hidup kita, untuk apa kita hidup..?
Dan selanjutnya kita akan bimbang dalam menentukan langkah.
Telah beragama tetapi tidak mencerminkan ajaran keagamaannya. Agama yang seharusnya memberi warna hidup malah di lembagakan, dijadikan belenggu bagi perkembangan jiwa.

Ibadah yang pada hakekatnya merupakan sarana menuju kesempurnaan, kini hanya dijadikan simbul sebagai ciri agama itu sendiri. Sedang sebagai tujuan, yang dikejar manusia hanyalah memenuhi perut dan mencari cara, bagaimana tidur itu bisa enak ya,,?. Yang pada akhirnya menjadi kebiasaan makan dan tidur secara berlebihan. Sudah barang tentu hal itu akan membuat tumpul batin kita.

 

Padha gulangen ing kalbu

Asahlah hatimu, Ini adalah hal pertama yang ingatkan dari tembang Kinanthi agar kita termasuk manusia yang sasmita amrih lantip, bisa paham akan rahasia hidup, tentu saja dengan melatih diri, pesunen sarinira, dilatih dan diberdayakan menuju keprawiran den kaesthi, kesempurnaan, dengan menggunakan cara sudanen dhahar lan guling, kurangi makan dan tidur.

Sederhana sekali. "Mengurangi makan dan tidur".

Karena makan dan tidur yang berlebihan akan mematikan Syaraf bawah sadar kita, akan memanjakan kesadaran kita dalam taraf membuat nyaman diri sendiri, yang selanjutnya akan membuat tertutup hati ini untuk bisa dan mampu mengasihi orang lain.

Mengurangi makan dan tidur bukan berarti menyiksa tubuh untuk tidak makan selama berhari-hari, bukan juga menahan untuk menghilangkan rasa kantuk selama beberapa waktu lamanya. 

Yang wajib dipahami adalah bahwa "tubuh ini masih butuh energi" karena kita juga masih memerlukan badan dan tubuh sebagai "kendaran jiwa" guna menempuh pelajaran-pelajaran dibumi sebagai bekal kelak dikemudian hari.

Dadio lakuneraku, cegah dhahar lawan guling

Cegah dhahar lawan guling disini selanjutnya diasumsikan sebagai pelaksanaan "Ibadah Puasa".

Dalam puasa kita dilatih untuk merasakan perbedaan antara "keinginan" dan "kebutuhan".  Mengurangi makan dan tidur dimalam hari bagi orang yang menjalankan ibadah puasa adalah bentuk perwujudan dalam pelatihan penyadaran diri.

Saat menjalankan puasa kita akan memulai dengan makan sahur secukupnya  guna memenuhi cadangan kebutuhan energi kita dalam beraktivitas. Setelah berlangsung beberapa lama, maka akan timbul keinginan untuk makan dan minum, padahal kalaupun kita tidak serta merta menuruti keinginan itu, tidak akan terjadi dampak apa-apa.  Kita tidak akan mati gara-gara Puasa.  Tetapi akan berlaku sebaliknya apabila keinginan itu timbul pada saat kita sedang tidak berpuasa, maka kita akan langsung makan dan minum sepuasnya.

Dari sini ada pelajaran bahwa dalam berpuasa kita dilatih untuk memahami kebutuhan, Lan aja sukan sukan, anganggoa sawatawis, dan jangan lah menuruti keinginan, tetaplah sederhana. Karena dalam berpuasa hakekatnya adalah pengendalian diri, pengendalian diri dari keinginan  yang sebenarnya kita belum waktunya untuk membutuhkannya. Maka dari sini ada lagi pelajaran yang dapat dipetik, Bahwa dalam kehidupan kitapun harus mampu memimpin diri dan mengendalikan hasrat dalam diri.

Kita belum bisa dikategorikan sebagai manusia berwatak pemimpin apabila menuruti keinginan, karena itu akan mengurangi kesadaran diri. ala watake wong suka, nyuda prayitnaning batin.

Seorang pemimpin artinya harus bisa  menjaga kesadaran diri, sedangkan memanjakan keinginan akan dapat memerosotkan kita kedalam jurang yang sangat dalam, hendaknya pengambilan keputusan ditimbang terlebih dahulu, ini "kebutuhanku" atau "keinginanku"


Semoga dengan puasa yang akan kita jalani, dapat menambah ilmu kita dalam berproses sebagai pembelajaran kepemimpinan pada diri kita masing-masing, setelah mampu memimpin diri  selanjutnya yang diharap adalah  akan tercapai tinitah dumadining wong kang agung pambudine tumrap bangsa lan nagara. Amiiieeennnn...


ooOoo