Wong ngaurip menika kedah eling asal usulipun, kedah setyo tuhu marang gesangira lan kapitayan marang badanira piyambak. Awit donya menika mboten sanes injih margi kagem sangu dados suwargi, kedah dipun ambah kagem jangkeping lampah. Beberapa hari terakhir ini memang serasa terpesona kembali pada syair-syair lagu yang sempat didendangkan oleh Group Musik dari Jogja bernama Jikustik. Dan mekipun beberapa saat yang lalu saya menulis tentang "lagu setia", namun kali ini tetap pingin menuliskannya kembali guna menambah yang sudah ada.Saat mendengar, melihat dan membaca sebuah kata, tingkah dan perbuatan yang berhubungan dengan kata 'setia' mungkin yang ada dibenak kita langsung tertuju pada satu hubungan kesetiaan antara gender berbeda, dan boleh dibilang sebagai hubungan asmara.Mencoba agak berbeda dalam mendefinisikan sebuah kata 'setia', bukan saja hanya terkutip pada setia asmara, namun akan lebih bisa membuka makna dijiwa tatkala kita dihadapkan pada satu kata setia yang lebih dari kungkungan berujud asmara dua anak manusia.Sebagaimana kata Cinta, kata setia pun berlaku dan terjadi karena ada hubungan antara satu dengan yang lainnya.Dalam bahasa Jawa setia sama dengan setya, setya tuhu, setya mituhu, yaitu kesetiaan yang terarah.Tersirat pada awal-awal kalimat diatas bahwa "Wong ngaurip menika kedah eling asal usulipun, kedah setyo tuhu marang gesangira lan kapitayan marang badanira piyambak", Orang hidup itu wajib eling (ingat) tentang asal usulnya, wajib memegang erat kesetiaan yang mengarah pada hidup dan kebersahajaan kita sendiri.Berlanjut dengan kalimat "Awit donya menika mboten sanes injih margi kagem sangu dados suwargi, kedah dipun ambah kagem jangkeping lampah. Sebab dunia ini tak lain adalah jalan yang digunakan untuk mencari bekal menuju surgaNYA, maka wajib pula dilakoni demi kesempurnaan dan kesentausaan.Ketika kita membaca kalimat beserta tejemahan diatas, maka sepertinya sudah bisa kita definisikan bahwa kata 'setia' itu ada karena terjadi hubungan, bukan saja hubungan antar manusia itu sendiri namun juga hubungan antara manusia dengan Tuhan.Satu hubungan yang tiap hari dilaksanakan apalagi memang dikerjakan sebagai satu kewajiban sebagai rutinitas tak menutup kemungkinan semakin lama bakalan membuat kita merasa semakin bosan. Manusiawi, ini adalah hal yang kita semua tak bisa mempungkirinya. Setelah rasa bosan itu muncul maka kecenderungan berikutnya adalah kemauan yang tak lagi didukung dengan rasa semangat yang ada. Jika begitu adanya maka tindakan tak setia untuk tetap konsisten berhubungan pun bakalan kembali merasa tak ada manfaatnya.Akan dengan mudah kita melepaskan komitmen awal dan menuruti rasa bosan jika kesetiaan terhilangkan. Dari sini dapat kita rasakan arti sebuah kesetiaan, bahwa kesetiaan itu adalah bukan satu norma atau aturan yang musti kita kerjakan. Saya pikir yang namanya kesetiaan adalah lebih pada satu tuntutan batin yang muncul dari diri kita demi tercapainya satu komitmen awal demi penciptaan diri. Sebagaimana menanam pohon, dalam mencipta diri ini awalnya dibutuhkan satu komitmen (meskipun itu tak harus di ucapkan) menanam dalam tanah diri, selanjutnya beriring waktu masih ada hal yang musti kita kerjakan yaitu merawatnya. Merawat tanaman bernama komitmen awal tadi. Disinilah rasa jemu dan bosan itu timbul, untuk hasil seterusnya tergantung kita menjaga sebuah komitmen yang kita rawat. Akan tak ada hasil jika kita meninggalkannya, namun saya yaqin bakalan ada buah yang bakalan kita petik tatkala kita tetap merawat segala yang berhubungan dengan yang kita tanam tadi. Buah itu bernama diri kita sendiri.Akhirnya buah dari pohon komitmen kesetiaan itu bisa saja diambil bersama pelukan sesama manusia, dan tak menutup kemungkinan tangan Tuhan pun menyertai kita diakhirnya dalam memetiknya.Pertanyaannya, apakah kita telah berjuang dalam merawat arti dari kesetiaan diri, atau kita selama ini hanya sebatas memimpikan memperoleh pasangan yang setia..? [uth]__________________________________________________________________*) Tak berlaku bagi yang mengartikan setia sebagai "selingkuh tiada akhir" Ilustrasi: hold (clicked) Sila ceklik playlist untuk mendengarkan lagu setia (Jikustik)
 | katanya ngantuk....??? ini posting sambil tidur kali yah? |
 | Mbok yah sekali2 lagunya Katon Bagaskara, *Negeri di Awan* request :D |
 | Setia pada setiap wanita? *timang2 pentungan hansip* |
 | Mbok yah sekali2 lagunya Katon Bagaskara, *Negeri di Awan* request :D  Negeri Diawan ada DISINI <== (sila ceklik) selembut awan DISINI <== (sila ceklik) |
 | Uhuk-uhuk......
Jare meh ngaso!?! *simbokgalakmode: on: |
 | saya setia kepada saemua selinguhan.
xixixixi |
 | Walaaah... Untung ada artinya ntu tulisan. Aku cuma ngerti sebagian. Hehehe.. |
 | lagunya enak mas.. thx... |
 | Eheheheeeee :D
pertama bilangnya gak mau ngomongin asmara, melihat dari sisi berbeda. Akhir2e teuteup nanyanya gitu. Huwahahahee
akika nda berpresepsi setia tu selingkuh tiada akhir, tapi setiap tikungan ada. Hak hakk :D *podo wawe yooh* |
 | absen ah....melu dengarin lagunya, |
 | Mba laras, nek udah absen monggo ambil snek di kantin sebrang sana, bilang ajah masukin tagihan ke mas trie :-D |
 | Suwi2 buahasamu melu rag nggenah ='= |
 | Setia = standar tunggal Ngacu ke standarnya Gandhi yang ngajarin orang hidup dengan make standar yang sama antara omongan dan perbuatan.
Nggak setia = standar ganda, banyak, tak terhingga Ngacu ke standar hidup berubah-ubah ngikutin zaman, mesti bisa malih rupa ke banyak unsur dan bentuk. |
 | Curang ahh. Wong liyo sing disalahkee. Kae bebimu dicek sik |
 | ohtrie wrote on Jun 26, '10, edited on Jun 26, '10 Curang ahh. Wong liyo sing disalahkee. Kae bebimu dicek sik  oh sik sik dikk..... bebiku lagi tak pakani jeee... |
 | Juowh :D makani anake jebul |
 | hihii.... bar adus njuk maem sik.... |
 |  minum dulu, biar gak haus, nunggu lama2  |
 | Buehehehehe..... dah ah, cape nyari2 emonya :) |
 | Buehehehehe..... dah ah, cape nyari2 emonya :)  |
 | Stop!!!! :) *cape deh...* |
 | bisakah ku setiaa.. wong ngeblog aja punya dua..
tapi tar klo misua jelas cuma boleh punya satu lagian satu aja gak bakalan abis kok haha |
 | hihihi... Nitaaa........ mana calon misuamu...? |
 | weeeeeisss... kok ngertiii????  |
| |