Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

maztrie™ngeblog | kanca iku donga




Blog EntrySep 3, '10 4:52 AM
for everyone
"Gambar perbatasan ini jelas tak jelas ya mBak..?, lha wong cuma mengandalkan HP je, mana posisinya juga nggak mendukung lagi"

"Oh enggak Mas.... Ini gambar perbatasan memang nggak jelas karena pas ambil gambar, nggak asyik gitu deh suasananya..!"

"Oh ya udah, saya kira gambarnya itu jelas nggak jelas kok, kalau gitu saya jadi nggak jadi mau ngliat gambar perbatasannya deh..!"

Kalimat diatas adalah sedikit petikan yang saya improve dari hasil komunikasi di dunianya mBak maya ini yaitu dengan mBak Aniez setelah melihat gambar yang diambil hasilnya bluur. Tak tahu kenapa tadi sewaktu blog-walking saya sempet mengalami kegagapan komunikasi alias lemot bin tuli seperti itu. pengulangan kata yang bikin mumet karena muter-muter.
Kalau dari bawaan lahir sepertinya sih bukan karena ku terlahir juga bukan dari keturunan yang lemot. tapi apakah ini akibat dari efek penuaan dini karena hari-hari diniati dengan mengurangi tidur dengan alasan (sok) klise yaitu laku prihatin atau ada sebab lain misalnya menyangkut puyengnya mikir kerjaan. Saya tak tahu persis.

Yang saya tahu persis ketulian ini baru disadari setelah kemarin baru saja menyimak pidato Bapak Presiden kita, Presiden Republik Sinetronesia. Setelah itu banyak sekali yang membahas isi yang dikeluarkan oleh Sang Bapak, sementara setelah membahasnya mereka sudah merasa lega. Hanya saja saya bisa melihatnya ternyata apa yang dibahas tentang gambar perbatasan ini kok tak sama dengan maksud sang Pembahas pertamanya.

Tak jarang orang (atau kelompok massa) sedikit-sedikit bisa bertengkar,sedikit-sedikit  bisa bermusuhan dan sedikit-sedikit saling mempergunjingkan hal-hal yang sebenarnya hanya berdasarkan pada informasi tentang "gambar perbatasan" yang didapat secara sedikit pula. Apalagi kalau mendengar penjelasan yang hanya muter-muter bukan tidak mungkin hanya akan muter diotak dan akhirnya bikin pusing kepala.

Berlaku setiap hari kenyataannya membuat kita menjadi terbiasa mengalami 'habit kelemotan juga ketulian', dan secara tak sadar kita merasa menjadi warga yang sungguh-sungguh besar. Ditandai dengan melapangkan dada suka mengalah, tak lapar akan kemenangan dan keunggulan atas negeri lain, serta tak tega kalau harus melihat warga lain kalah tingkat kegembiraannya dibanding diri sendiri.

Meski terbiasa dengan ketulian, Sejatinya saya secara pribadi merasa cinta sekali dengan kebesaran yang dimiliki negeri bernama Sinetronesia ini. Bagaimana tidak, lha secara teritori kita ini ada di 12,5% dari bola bumi lho. Artinya laut udara dan daratan pun sudah semestinya kita kuasai segala aksesnya. Namun saya sungguh salut dengan kerendahan hati dari para Bapak kita yang sedang enak duduk diatas sana. Kita berhati mulia karena secara sukarela memberikan 'hadiah' kepada negeri Kecamatan berjuluk Singaparna untuk mengelola tehnologi informasi dan komunikasi menggunakan wilayah angkasa kita yang tentu berada diluar wilayah kecamatannya. Dengan kalimat lain, lumayan sebagai satu bentuk amal sodaqah buat tetangga.

Lain dari itu saya bisa cinta terhadap Bumi Pertiwi ini karena ternyata ada keajaiban tersendiri yaitu bisa melakukan produktifitas ganda diperutnya, selain masih terus berada pada kondisi masa subur keberadaannya ternyata juga bisa sambil mengandung berujud tambang-tambang, pohon hutan, dan banyak lagi calon bayi yang bakalan dilahirkannya. Maka bener adanya kalau sosok Ibu pertiwi pun ada yang menjulukinya sebagai "sosok penggalan surga" NYA.
Negeri mana yang punya biota laut sejumlah 750 000 dari total 850 000 kekayaan laut dunia..? Negeri mana yang berpotensi tentang gas alam...? Ibunya siapa yang bisa mengandung semua hasil tambang mineral dan tambang-tambang lain...? Negeri mana yang memiliki alat bersolek berujud batik, angklung, jamu, tari pendhet, reog Ponorogo, dan macam-macam gaun lainya...?

Akan tetapi memang sayapun sungguh harus mencintai negeri ini karena mampu menunjukkan sikap lembut-hati, jauh dri sifatnya raja-tega. Kandungan-kandungan Ibu itu kita merdekakan untuk bisa dibidani oleh industri multinasional yang penuh orang-orang serakah. Anak dari hasil kandungan ibu yang terlahir dengan nama mas intan raja-brana rela terangkut ke bumi manca. Dan hebatnya itu adalah bukan satu bentuk pelecehan anak, itu adalah bagian dari kebesaran Jiwa.
Dan ketertarikan saya juga bisa timbul akibat pemberian nikmatNYA berujud "keterlenaan" akan kekayaan alam serta warisan budaya yang hanya bisa kita teriaki setelah dirawat oleh negeri lain dengan dalih 'dimaling'. Kita bakalan diam seribu bahasa dan sejuta perilaku sebelum itu tercolek orang lain.

Karena merasa bersyukur atas keberkahan dari Tuhan, pun banyak dari kita yang berkeinginan mengulurkan tangan zakat, infaq dan sodaqohnya. Tak peduli ada yang hingga menemui jalan kepulangan menuju Tuhan itu sendiri, namun yang terpenting dimata sang pemberi zakat adalah bahwa apa yang menjadi kehendaknya guna mengharap buah Tuhan berujud Surga bisa terlaksana.

Mengenang transaksi beberapa waktu yang lalu yaitu tentang penjualan pabrik informasi dan komunikasi berlabel Indosat ataupun merelakan kapal  tanker pun akhirnya saya ya musti tetep berusaha cinta terhadap negeri Sinetronesia ini. Siapa tahu besuk, waktu yang akan datang kita tak usah berpusing-pusing ria mengeluarkan dana demi pemilihan umum guna memilih sang Pemimpin. Bukankah dana itu bisa dialokasikan untuk menyewa seorang tokoh manajemen dunia guna memimpin negeri ini sementara pemimpin yang ada saat ini hanya sebatas pandai membuat skenario sandiwara belaka. Siapa tahu nanti sebuah Majelis yang mewakili Rakyat bakal ada wacana lagi untuk membikin proposal pengajuan kepada Negeri Belanda agar berkenan kembali memimpin kita.

Soal kepentingan, tenang saja, nggak usah takut, toh kita punya yang namanya Undang Undang dengan pokok bahasan mengenai keberadaan warga sebagai rakyat ini kedudukannya lebih tinggi daripada seorang pemimpin. Sebagaimana benar adanya jika seorang Presiden saja keberadaan kekuasaannya juga atas mandat dari rakyat.
Kita musti cinta karena sudah lebih dari 200 tahun lalu memiliki sejarah yang mampu membuat gentar dunia. Sehingga kita juga musti mengamini tatkala para Bapak di negeri pertiwi ini sudah tak menyediakan tempat bagi anak negeri yang berprestasi, demi sanjungan negeri lain akan terrelakan orang-orang cerdas membangun negeri tetangga karena mereka merasa nyaman, karena mereka merasa dihargai, karena mereka juga sadar jatah materi yang untuk menghargai itu lebih cenderung terkorupsi di negeri ini.

Dengan bentuk ketulian diatas pun saya tetap cinta negeri ini, jadi tatkala saya mau obyektif sudah semestinya saya pun harus bisa memaparkan kebanggaan yang ada.

Saya bangga bisa terlahir dan tumbuh-besar  dari rahimnya Ibu Pertiwi, sebagaimana kebanggaan saya muncul tatkala melihat sejarah bahwa kelahiran Kemerdekaan '45 Republik ini dilakoni atas kesadaran (baca: bukan ketulian) 1908 serta monumen mental 1928.

Ya... Kita memang harus bangga karena terlahir dalam satu kandungan dari Ibu  yang sama dengan Gajah Mada, Airlangga, Kalingga, Sriwijaya, Mataram, serta Kutai Kartanegara.  Tak munafik kebanggaan inipun juga atas keberadaan sejarah mengenai Jong Ambon, Jong Java, Jong Celebes, Jong Sunda, dan Jong Jong lain yang menyertainya.
Saya bangga dengan keberadaan sejarah atas pengembaraan anak-anak Ibu Pewrtiwi menuju Madagaskar, Kenya, Somalia, MuangThai, dan IndoChina.
Dan saya juga bangga menjadi anak dari negeri yang sempat memiliki Bapak berjuluk Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, GusDur, mBak Mega, serta Pak Bambang(.......???!!!) Alasannya tak lain karena beliau-beliau inilah pecinta rakyat (?), tak ada yang tak cinta terhadap rakyat(?) Tak ada yang titik tolak perjuangannya tanpa menyebut nama rakyat(?)
Semoga kita bisa memposisikan diri untuk mampu memahami bahwa seloyo dan selembek apapun, Rakyat dijunjung dan dimuliakan oleh pidato semua pemimpin bergelar Presiden itu.

Di paragraf-paragraf akhir, meskipun belum ketahuan apa hasil yang kita dapat namun saya harus bisa berbangga diri karena selain sebagai anggota G20, negeri kita ini sudah termasuk juga pada negeri ketiga dengan alam demokrasi terbesar dunia setelah Amerika dan India.

Dalam demokrasi yang tentu butuh oposisi dan kritisi sepertinya adalah wajar jika pendapat tiap orang pun tak sama, disinilah bentuk pendewasaan diri kita. Anda boleh menentang sebuah wacana, anda dipersilahkan tak membaca ataupun menulis sebuah wacana, dan anda pun tak dilarang untuk mengkritisinya. Hanya saja satu yang musti tercipta sebagai dasar pribadi adalah karena kita ini tak hanya mau menang semata, kita berkeinginan sama, jadi mustinya juga memiliki rasa saling cinta dengan komposisi yang tak jauh berbeda, demi bumi Indonesia tercinta, bukan Indonesia terbenci, dan sama sekali bukan Anti-Indonesia.

Untuk itu dalam demokrasi dan keberanekaragaman ini, walaupun bukan merupakan kewajiban, sepertinya bukan satu tindakan melebih-lebihkan  jika kita pun bisa menunjukkan kebanggaan sesuai kemauan dan kemampuan yang ada.
Mulai dari yang kecil di diri kita menjadi besar karena dukungan kebersamaan dengan teman lainnya. Keberanekaragaman budaya sebagai warnanya, keberbedaan pendapat pun bisa dijadikan bumbunya, diaduk dimasak dan dihidangkan demi makanan bersama pula. [uth]

ilustrasi: batas wilayah kereta wanita
tak semua pertanyaan butuh jawaban
Inspired by CakNun

46 CommentsChronological   Reverse   Threaded
depingacygacy wrote on Sep 3, '10
Kudu baca ulang neh
rengganiez wrote on Sep 3, '10
Meski ambil foto dewan juri..belum tentu menang lho..:-p

*bupeb...amankan..ada yang ikut lomba :-D*
ohtrie wrote on Sep 3, '10
Kudu baca ulang neh
baca doa duluu...
ohtrie wrote on Sep 3, '10
Meski ambil foto dewan juri..belum tentu menang lho..:-p

*bupeb...amankan..ada yang ikut lomba :-D*
wakakakak..
saopa sing meh ikut lombaaaa....
Ini khan menanggapi tantangane Mas Luqman wingi kaeeeee......
Comment deleted at the request of the author.
rengganiez wrote on Sep 3, '10
ohtrie said
wakakakak..
saopa sing meh ikut lombaaaa....
Ini khan menanggapi tantangane Mas Luqman wingi kaeeeee......
yo ben...tetep dimeloke :-p
rirhikyu wrote on Sep 3, '10
yo ben...tetep dimeloke :-p
xixixixixi.. saya mah manut ama sponsor

so monggo linknya dimasukkan :D
ohtrie wrote on Sep 3, '10
yo ben...tetep dimeloke :-p
emohhhh.....
aku kasih ke Link nya Mas Luqman ajahh..... :)
ohtrie wrote on Sep 3, '10
xixixixixi.. saya mah manut ama sponsor

so monggo linknya dimasukkan :D
hihi...
ora usah lah mBak, wis cukup nang kene waee....
respatikasih wrote on Sep 3, '10
ohtrie said
aya bangga dengan keberadaan sejarah atas pengembaraan anak-anak Ibu Pewrtiwi menuju Madagaskar, Kenya, Somalia, MuangThai, dan IndoChina.
Dan saya juga bangga menjadi anak dari negeri yang sempat memiliki Bapak berjuluk Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, GusDur, mBak Mega, serta
.. Pak Bambang.... hhm sik nanti dulu
Tak pikir pikir, seluruh rakyat Indonesia yang masih mempunyai harga diri bangsa merasa sangat kecewa bahkan terluka dengan pidatonya kemarin, seolah olah kok martabat bangsa Indonesia seperti dijual demi kepentingan ekonomi. Harkat dan martabat bangsa harus diatas segalanya. IRONIS sekali, Negara belum mampu memberi kesejahteraan kesebagian rakyatnya, lantas mereka pergi ke Malaysia untuk mencari nafkah dan penghidupan, lalu penghasilan mereka, jadi pemasukan Negara, devisa, negara turut menikmati hasil jerih payah dan penderitaaan mereka dan ketika mereka bermasalah pemerintah acuh tak acuh.
tentu saja kita tidak menghendaki perang tapi kita mengharapkan ketegasan sikap pemerintah atas pelecehan martabat bangsa.
Tapi itu sangat sulit didapatkan dari seorang pemimpin yang lembek
anotherorion wrote on Sep 3, '10
nek aku ngga sesabar pak pres je mas
ohtrie wrote on Sep 3, '10
.. Pak Bambang.... hhm sik nanti dulu
Tak pikir pikir, seluruh rakyat Indonesia yang masih mempunyai harga diri bangsa merasa sangat kecewa bahkan terluka dengan pidatonya kemarin, seolah olah kok martabat bangsa Indonesia seperti dijual demi kepentingan ekonomi. Harkat dan martabat bangsa harus diatas segalanya. IRONIS sekali, Negara belum mampu memberi kesejahteraan kesebagian rakyatnya, lantas mereka pergi ke Malaysia untuk mencari nafkah dan penghidupan, lalu penghasilan mereka, jadi pemasukan Negara, devisa, negara turut menikmati hasil jerih payah dan penderitaaan mereka dan ketika mereka bermasalah pemerintah acuh tak acuh.
tentu saja kita tidak menghendaki perang tapi kita mengharapkan ketegasan sikap pemerintah atas pelecehan martabat bangsa.
Tapi itu sangat sulit didapatkan dari seorang pemimpin yang lembek

segitu hebatnya ya boss kita?
awww... *melongos*
segitu siriknya ya teman kita, mbak....hehehe.....males ah ngebahas, dan males bergabung dengan orang2 yg cuma pinter menghakimi..coba suruh orang2 yg banyak menilai itu berangkat perang, atau sehari memipin negara..sanggup nggak? berani nggak? punya nyali nggak?..
loh dah nulis n mbuka wacana tapi kok males mbahas ki piye ta Yu...?

yawis kalo gitu bukan mo ngebahas deh, mending tanya ajahh.....

emang sapa yang mo berperang itu, lalu sapa juga ya yang bernafsu tuk memimpin (apalagi ini) sebuah negara...?
Trus salahkah saat rakyat ini menjadi oposisi sama sekali bukan menghakimi yang artinya secara tidak langsung berperan sebagai fungsi control karena dirasa dalam negeri yang katanya beralam demokrasi ini ternyata sudah tak ada lagi wakil rakyatnya yang mau memposisikan diri sebagai oposan..?

Lah kalo Bapaknya lembek bin gak teges juga gak tegas, bahkan kadang juga banyak mengeluh trus jatah ngeluhnya anak dari Ibu Pertiwi ini sama siapaa...? akankah anak-anak negeri ini mengeluh ke Bapaknya tetangga juga...?

Ini semua pertanyaan,
tapi biar adil ku menempatkan diri kek sampean juga deh Yu...
sama halnya pada saat sampean juga males membahasnya....maka pertanyaan2 itupun gak wajib buat dijawab juga lho kalo memang masih males ngejawabnya, sebagaimana (mungkin) temen2 kita akan mempersilahkan sampean untuk males bergabung dengan yang (sampean anggap) pinter menghakimi itu...

cheers n makasihhhh.... :)
halah maz Trie ini, bisanya ngetik panjang lebar doang..Omdo ah....teori tok mas trie ini kalo ngomomng...

dak usahlah muter2 ke oposan segla macem, mas....wong aku bicara juga hal simple koq, kalo bisa menghakimi ato protes, ya yang pantes lah, jangan cuma jago berkoar doang.....bisa nggak kasih solusi?
ohtrie wrote on Sep 3, '10
. Pak Bambang.... hhm sik nanti dulu
Duh YU Thereeee...
sakjane ku rada rikuh ki nek ngladeni komen sampean lhoo..
wis nekad lah... diomong nglunjak ya ra papa... hihi

*****
YU There sing tak tresnani....

Diatas aku pada komen sebelumnya aku reply dari hasil reply-coment dengan seseorang contact di rumah lain...
Dan akhirnya gak aku ladenin

Kenapa gak ku ladenin karena parameternya dah beda, kok kalo aku ngomong oposan seolah olah dah jauh dari kontek yang ada yaa.... apakah emang demikian..?
silahkan dipertimbangkan jawabannya.
Bandingkan kalo aku mbahas itu trus aku menyangkutkan dengan keberadaan si Poltak yang pingin memperpanjang masa jabatan seorang {residen, baru deh itu boleh dikatakan keluar dari kontek...

Nah begitu juga aku pas nulis ini mBakyuuuu...
hihii,
Yups soal kecewa ya sama Yuu...
Hanya saja mau naru sedikit sipmati atas kelembekannya Yuu, kadangkala khan kita juga gak sadar bahwa merasa kehilangan pada saat kita dah gak dipimpinnya...
dan tak munafik juga banyak yang menyanjung kepemimpinan seseorang pada saat kita sudah tak dipimpinnya lagi atau malah sudah ditinggal mati....

Dan gak pas rasanya kalo aku ngambil tema bangga tapi kok ya gak mau obyektif.....
ku disini mending No Affens, No Comment, n just wanna Speechless wae lahh...

hihii, nuwun yuuuu - ngapurane adikmuuu, mwuachhh....
ohtrie wrote on Sep 3, '10
nek aku ngga sesabar pak pres je mas
bwehehehe..........
no comment Masss... :)
respatikasih wrote on Sep 3, '10
ohtrie said
ngambil tema bangga tapi kok ya gak mau obyektif.....
bukannya kok nggak mau obyektif Trek
aku ngerti maksud mu kok
aku juga bangga sebagai WNI, tapi bangga dengan sikap presiden kita untuk yang ini, TIDAK, bangga dengan kinerja kabinetnya ? BELUM, bangga dengan DPR/MPR, TIDAK untuk saat ini....
kenapa aku tidak bangga dengan sikap Presiden saat ini ? OK, aku ngerti, Presiden bukannya tidak tegas dia mencoba menjaga citranya dengan soft diplomacy dengan bersikap (seolah) bijaksana dan tidak grusa grusu, mengingat banyak TKI dan TKW penghasil devisa -- ini yang lantas membuatku berpikir (setelah baca pidatonya kemarin) bahwa seolah olah martabat bangsa Indonesia seperti dijual demi kepentingan ekonomi.
srisariningdiyah wrote on Sep 3, '10
ada yang curhat!


*ngunyah ubi*
nggambleh wrote on Sep 3, '10
hmmmmm*manggut-manggut*
beautyborneo wrote on Sep 3, '10
Kayake teks pidato si bapak kemarin ketukar deh sama yang ini :)
beautyborneo wrote on Sep 3, '10
Menyimak :)
tjapplien wrote on Sep 3, '10
ohtrie said
Alasannya tak lain karena beliau-beliau inilah pecinta rakyat (?), tak ada yang tak cinta terhadap rakyat(?) Tak ada yang titik tolak perjuangannya tanpa menyebut nama rakyat(?)
hehehe, njenengan leres mas Trie
rakyat iku cuma diingat dan dicinta tiap 5 tahun sekali aja..
tp selebihnya, zoooonk !


btw jd inget masa SMA kelas 2 aku suka ribut sama guru sejarah..
cuma ribut masalah penyebutan huruf depan negara ini, I sama E
kata-katanya yg masih kuhafal karena ribuan kali diteriakkan di kupingku..

"INDONESIA VRIN, BUKAN ENDONESIA..!!!"

gak jarang jg aku sampe dihukum muter lapangan, haha..
inyong wrote on Sep 3, '10
intine kudu jangan pake nafsu tree
sepunten wrote on Sep 3, '10
hahahaaaa... kena kan? :))
ohtrie wrote on Sep 4, '10
aku ngerti maksud mu kok
hihiihii......
aku ya bakalan paham nek sampean ki sakjane reti jalan pikiranku owk mbakyuuuuu...
iki lagi memposisikan rada beda Yuu...

wis pokokmen ngono lahh, hihi....
ohtrie wrote on Sep 4, '10
ada yang curhat!
wakakakak......
asem ik..... :)
ohtrie wrote on Sep 4, '10
hmmmmm*manggut-manggut*
gratis ra mbayar...
ohtrie wrote on Sep 4, '10
Kayake teks pidato si bapak kemarin ketukar deh sama yang ini :)
loh kok bisa mBakkkkk.....!!!
ngliatnya jangan kejauhan dari Borneo kedeketen Sabah dongggg...!! :))
ohtrie wrote on Sep 4, '10
Menyimak :)
mangga mangga mBakk... nuwun njihhhh
ohtrie wrote on Sep 4, '10
hehehe, njenengan leres mas Trie
rakyat iku cuma diingat dan dicinta tiap 5 tahun sekali aja..
tp selebihnya, zoooonk !
YES...!!! You get the point for this paragraph dikk...... hihii

halah Pak Guru nya juga sempet lebay juga ya ternyata... :)

ohtrie wrote on Sep 4, '10
inyong said
intine kudu jangan pake nafsu tree
wakakaakk....
asem tenan owkkk, kalo badannya kecil dah tak tonyoooo...!!!
ohtrie wrote on Sep 4, '10
hahahaaaa... kena kan? :))
iyaaaaaa.....!!!
penuhcinta wrote on Sep 4, '10
Ngerti banget, Trie.
ohtrie wrote on Sep 4, '10
Ngerti apaan nenekkkk...?
tintin1868 wrote on Sep 4, '10

Negeri mana yang punya biota laut sejumlah 750 000 dari total 850 000 kekayaan laut dunia..?
>> kog tahu biota laut indonesia segitu?


Semoga kita bisa memposisikan diri untuk mampu memahami bahwa seloyo dan selembek apapun, Rakyat dijunjung dan dimuliakan oleh pidato semua pemimpin bergelar Presiden itu
>> jadi gapapa tuh pidato kemaren soal malaysia di mabes cilangkap?

endonesah raya merdeka merdeka, tanahku negriku yang ku cintaaaaa..
penuhcinta wrote on Sep 4, '10
ohtrie said
Ngerti apaan nenekkkk...?
Perasaanmu.
ohtrie wrote on Sep 4, '10
Negeri mana yang punya biota laut sejumlah 750 000 dari total 850 000 kekayaan laut dunia..?
>> kog tahu biota laut indonesia segitu?
mBakkk...
Wakatobi tepatnya mBakk, di Wakatobi ada species laut sebanyak 750 000 dari total 850 000 di dunia.....
Itu baru satu sisi aja kita memandangnya...

Kita juga punya Raja empat tak jauh dari disitu ato Bunaken yang lebih dulu dikenal masyarakat banyak.. Tapi apakah itu semua murni anak negeri yang diberi kesempatan utk mengelolanya...? hemmmmm.... :(
ohtrie wrote on Sep 4, '10
>> jadi gapapa tuh pidato kemaren soal malaysia di mabes cilangkap?
sebenarnya secara sikap kok gak itu sreg yaaa...
diluar sebagai lulusan terbaik seorang militer, semestinya juga jangan meninggalkan satu wejangan dari budaya asli, budaya lokal Jawa yang tetep masih relevan diterapkan, bahwa "ajining diri amarga saka lathi, ajining raga amarga saka busana" harga diri bisa dilihat dari omongan (lathi=bibir). harga sebuah badan bisa disaksikan karena busana...

Kalo pola bicaranya mbulet n muter-muter n gak tegas juga jauh dari teges bisa dipastikan harga diri pun nggak jauh dari hal tersebut khan..? :(
ohtrie wrote on Sep 4, '10
Perasaanmu.
ahh,
nekkk.... males kalo hrs bicara panjang kali lebar sama dengan luas... :(
mooncatz wrote on Sep 4, '10
sedih bacana :( kapan kesadaran itu ada di mereka ya?
ohtrie wrote on Sep 5, '10
sedih bacana :( kapan kesadaran itu ada di mereka ya?
hemm.....
sapa yang tahu jawabannya ya mBakkk...? :(
martoart wrote on Sep 5, '10
Nulis tuh yang fokus dan terstruktur gitu lo Tri. Kebanyakan pesan, dan menyulamnya pake benang yg gak warna. Jadi ya agak susah merunutnya. lari-lari. Nek aku dewan jurine, gak tak pilih ki.
ohtrie wrote on Sep 5, '10
Nulis tuh yang fokus dan terstruktur gitu lo Tri. Kebanyakan pesan, dan menyulamnya pake benang yg gak warna. Jadi ya agak susah merunutnya. lari-lari. Nek aku dewan jurine, gak tak pilih ki.
Iki ki pancen digawe nggladrah, ben kabeh kena dadi case sing bertumpuk tumpuk mbahh..
kaya kahanan negaramu kuwi lhoooo... hihiihi....
lumayan kena kanggo menstimulasi otak tuli juga jee...

*eh sapa sing meh melu lombaaaa...
aku gak pernah ngatutke iki nang lomba owkkk.... mesthi iki mBak Aniez yaa...!!

huffttt nek niat lomba kae ya kudune temane siji, bangga, yang lainnya kanggo bumbu waeee.... ha nek iki khan nggladrahhh... :(
penuhcinta wrote on Sep 5, '10
ohtrie said
ahh,
nekkk.... males kalo hrs bicara panjang kali lebar sama dengan luas... :(
Makanya, kata2ku tinggal satu dua.
itikbali wrote on Sep 6, '10
Aku ngga milih bapak presidensinetron Indonesia....punya hobby curhat sih, dikit2 mellow..walah
ohtrie wrote on Sep 6, '10
Aku ngga milih bapak presidensinetron Indonesia....punya hobby curhat sih, dikit2 mellow..walah
ehem ehemmm......
sante aja Yukkkk, nggak dosa khan gak milih jugaa... moga gak ada patwa kharam juga nantinya duweehhh... <IipSmiley>
dhave29 wrote on Sep 12, '10
sumpah pemuda yang manis dimulut...
pokoe Indonesia juoosss...
ohtrie wrote on Sep 12, '10
dhave29 said
sumpah pemuda yang manis dimulut...
pokoe Indonesia juoosss...
ngendonesyah jsayahhhh...!!!
Add a Comment