"Gambar perbatasan ini jelas tak jelas ya mBak..?, lha wong cuma mengandalkan HP je, mana posisinya juga nggak mendukung lagi""Oh enggak Mas.... Ini gambar perbatasan memang nggak jelas karena pas ambil gambar, nggak asyik gitu deh suasananya..!""Oh ya udah, saya kira gambarnya itu jelas nggak jelas kok, kalau gitu saya jadi nggak jadi mau ngliat gambar perbatasannya deh..!"Kalimat diatas adalah sedikit petikan yang saya improve dari hasil komunikasi di dunianya mBak maya ini yaitu dengan mBak Aniez setelah melihat gambar yang diambil hasilnya bluur. Tak tahu kenapa tadi sewaktu blog-walking saya sempet mengalami kegagapan komunikasi alias lemot bin tuli seperti itu. pengulangan kata yang bikin mumet karena muter-muter. Kalau dari bawaan lahir sepertinya sih bukan karena ku terlahir juga bukan dari keturunan yang lemot. tapi apakah ini akibat dari efek penuaan dini karena hari-hari diniati dengan mengurangi tidur dengan alasan (sok) klise yaitu laku prihatin atau ada sebab lain misalnya menyangkut puyengnya mikir kerjaan. Saya tak tahu persis.
Yang saya tahu persis ketulian ini baru disadari setelah kemarin baru saja menyimak pidato Bapak Presiden kita, Presiden Republik Sinetronesia. Setelah itu banyak sekali yang membahas isi yang dikeluarkan oleh Sang Bapak, sementara setelah membahasnya mereka sudah merasa lega. Hanya saja saya bisa melihatnya ternyata apa yang dibahas tentang gambar perbatasan ini kok tak sama dengan maksud sang Pembahas pertamanya.
Tak jarang orang (atau kelompok massa) sedikit-sedikit bisa bertengkar,sedikit-sedikit bisa bermusuhan dan sedikit-sedikit saling mempergunjingkan hal-hal yang sebenarnya hanya berdasarkan pada informasi tentang "gambar perbatasan" yang didapat secara sedikit pula. Apalagi kalau mendengar penjelasan yang hanya muter-muter bukan tidak mungkin hanya akan muter diotak dan akhirnya bikin pusing kepala.
Berlaku setiap hari kenyataannya membuat kita menjadi terbiasa mengalami 'habit kelemotan juga ketulian', dan secara tak sadar kita merasa menjadi warga yang sungguh-sungguh besar. Ditandai dengan melapangkan dada suka mengalah, tak lapar akan kemenangan dan keunggulan atas negeri lain, serta tak tega kalau harus melihat warga lain kalah tingkat kegembiraannya dibanding diri sendiri.
Meski terbiasa dengan ketulian, Sejatinya saya secara pribadi merasa cinta sekali dengan kebesaran yang dimiliki negeri bernama Sinetronesia ini. Bagaimana tidak, lha secara teritori kita ini ada di 12,5% dari bola bumi lho. Artinya laut udara dan daratan pun sudah semestinya kita kuasai segala aksesnya. Namun saya sungguh salut dengan kerendahan hati dari para Bapak kita yang sedang enak duduk diatas sana. Kita berhati mulia karena secara sukarela memberikan 'hadiah' kepada negeri Kecamatan berjuluk Singaparna untuk mengelola tehnologi informasi dan komunikasi menggunakan wilayah angkasa kita yang tentu berada diluar wilayah kecamatannya. Dengan kalimat lain, lumayan sebagai satu bentuk amal sodaqah buat tetangga.
Lain dari itu saya bisa cinta terhadap Bumi Pertiwi ini karena ternyata ada keajaiban tersendiri yaitu bisa melakukan produktifitas ganda diperutnya, selain masih terus berada pada kondisi masa subur keberadaannya ternyata juga bisa sambil mengandung berujud tambang-tambang, pohon hutan, dan banyak lagi calon bayi yang bakalan dilahirkannya. Maka bener adanya kalau sosok Ibu pertiwi pun ada yang menjulukinya sebagai "sosok penggalan surga" NYA. Negeri mana yang punya biota laut sejumlah 750 000 dari total 850 000 kekayaan laut dunia..? Negeri mana yang berpotensi tentang gas alam...? Ibunya siapa yang bisa mengandung semua hasil tambang mineral dan tambang-tambang lain...? Negeri mana yang memiliki alat bersolek berujud batik, angklung, jamu, tari pendhet, reog Ponorogo, dan macam-macam gaun lainya...?
Akan tetapi memang sayapun sungguh harus mencintai negeri ini karena mampu menunjukkan sikap lembut-hati, jauh dri sifatnya raja-tega. Kandungan-kandungan Ibu itu kita merdekakan untuk bisa dibidani oleh industri multinasional yang penuh orang-orang serakah. Anak dari hasil kandungan ibu yang terlahir dengan nama mas intan raja-brana rela terangkut ke bumi manca. Dan hebatnya itu adalah bukan satu bentuk pelecehan anak, itu adalah bagian dari kebesaran Jiwa. Dan ketertarikan saya juga bisa timbul akibat pemberian nikmatNYA berujud "keterlenaan" akan kekayaan alam serta warisan budaya yang hanya bisa kita teriaki setelah dirawat oleh negeri lain dengan dalih 'dimaling'. Kita bakalan diam seribu bahasa dan sejuta perilaku sebelum itu tercolek orang lain.
Karena merasa bersyukur atas keberkahan dari Tuhan, pun banyak dari kita yang berkeinginan mengulurkan tangan zakat, infaq dan sodaqohnya. Tak peduli ada yang hingga menemui jalan kepulangan menuju Tuhan itu sendiri, namun yang terpenting dimata sang pemberi zakat adalah bahwa apa yang menjadi kehendaknya guna mengharap buah Tuhan berujud Surga bisa terlaksana.
Mengenang transaksi beberapa waktu yang lalu yaitu tentang penjualan pabrik informasi dan komunikasi berlabel Indosat ataupun merelakan kapal tanker pun akhirnya saya ya musti tetep berusaha cinta terhadap negeri Sinetronesia ini. Siapa tahu besuk, waktu yang akan datang kita tak usah berpusing-pusing ria mengeluarkan dana demi pemilihan umum guna memilih sang Pemimpin. Bukankah dana itu bisa dialokasikan untuk menyewa seorang tokoh manajemen dunia guna memimpin negeri ini sementara pemimpin yang ada saat ini hanya sebatas pandai membuat skenario sandiwara belaka. Siapa tahu nanti sebuah Majelis yang mewakili Rakyat bakal ada wacana lagi untuk membikin proposal pengajuan kepada Negeri Belanda agar berkenan kembali memimpin kita.
Soal kepentingan, tenang saja, nggak usah takut, toh kita punya yang namanya Undang Undang dengan pokok bahasan mengenai keberadaan warga sebagai rakyat ini kedudukannya lebih tinggi daripada seorang pemimpin. Sebagaimana benar adanya jika seorang Presiden saja keberadaan kekuasaannya juga atas mandat dari rakyat. Kita musti cinta karena sudah lebih dari 200 tahun lalu memiliki sejarah yang mampu membuat gentar dunia. Sehingga kita juga musti mengamini tatkala para Bapak di negeri pertiwi ini sudah tak menyediakan tempat bagi anak negeri yang berprestasi, demi sanjungan negeri lain akan terrelakan orang-orang cerdas membangun negeri tetangga karena mereka merasa nyaman, karena mereka merasa dihargai, karena mereka juga sadar jatah materi yang untuk menghargai itu lebih cenderung terkorupsi di negeri ini.
Dengan bentuk ketulian diatas pun saya tetap cinta negeri ini, jadi tatkala saya mau obyektif sudah semestinya saya pun harus bisa memaparkan kebanggaan yang ada.
Saya bangga bisa terlahir dan tumbuh-besar dari rahimnya Ibu Pertiwi, sebagaimana kebanggaan saya muncul tatkala melihat sejarah bahwa kelahiran Kemerdekaan '45 Republik ini dilakoni atas kesadaran (baca: bukan ketulian) 1908 serta monumen mental 1928.
Ya... Kita memang harus bangga karena terlahir dalam satu kandungan dari Ibu yang sama dengan Gajah Mada, Airlangga, Kalingga, Sriwijaya, Mataram, serta Kutai Kartanegara. Tak munafik kebanggaan inipun juga atas keberadaan sejarah mengenai Jong Ambon, Jong Java, Jong Celebes, Jong Sunda, dan Jong Jong lain yang menyertainya. Saya bangga dengan keberadaan sejarah atas pengembaraan anak-anak Ibu Pewrtiwi menuju Madagaskar, Kenya, Somalia, MuangThai, dan IndoChina. Dan saya juga bangga menjadi anak dari negeri yang sempat memiliki Bapak berjuluk Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, GusDur, mBak Mega, serta Pak Bambang(.......???!!!) Alasannya tak lain karena beliau-beliau inilah pecinta rakyat (?), tak ada yang tak cinta terhadap rakyat(?) Tak ada yang titik tolak perjuangannya tanpa menyebut nama rakyat(?) Semoga kita bisa memposisikan diri untuk mampu memahami bahwa seloyo dan selembek apapun, Rakyat dijunjung dan dimuliakan oleh pidato semua pemimpin bergelar Presiden itu.
Di paragraf-paragraf akhir, meskipun belum ketahuan apa hasil yang kita dapat namun saya harus bisa berbangga diri karena selain sebagai anggota G20, negeri kita ini sudah termasuk juga pada negeri ketiga dengan alam demokrasi terbesar dunia setelah Amerika dan India.
Dalam demokrasi yang tentu butuh oposisi dan kritisi sepertinya adalah wajar jika pendapat tiap orang pun tak sama, disinilah bentuk pendewasaan diri kita. Anda boleh menentang sebuah wacana, anda dipersilahkan tak membaca ataupun menulis sebuah wacana, dan anda pun tak dilarang untuk mengkritisinya. Hanya saja satu yang musti tercipta sebagai dasar pribadi adalah karena kita ini tak hanya mau menang semata, kita berkeinginan sama, jadi mustinya juga memiliki rasa saling cinta dengan komposisi yang tak jauh berbeda, demi bumi Indonesia tercinta, bukan Indonesia terbenci, dan sama sekali bukan Anti-Indonesia.
Untuk itu dalam demokrasi dan keberanekaragaman ini, walaupun bukan merupakan kewajiban, sepertinya bukan satu tindakan melebih-lebihkan jika kita pun bisa menunjukkan kebanggaan sesuai kemauan dan kemampuan yang ada. Mulai dari yang kecil di diri kita menjadi besar karena dukungan kebersamaan dengan teman lainnya. Keberanekaragaman budaya sebagai warnanya, keberbedaan pendapat pun bisa dijadikan bumbunya, diaduk dimasak dan dihidangkan demi makanan bersama pula. [uth]ilustrasi: batas wilayah kereta wanita tak semua pertanyaan butuh jawaban Inspired by CakNun
 | Meski ambil foto dewan juri..belum tentu menang lho..:-p
*bupeb...amankan..ada yang ikut lomba :-D* |
Comment deleted at the request of the author.
 | aya bangga dengan keberadaan sejarah atas pengembaraan anak-anak Ibu Pewrtiwi menuju Madagaskar, Kenya, Somalia, MuangThai, dan IndoChina. Dan saya juga bangga menjadi anak dari negeri yang sempat memiliki Bapak berjuluk Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, GusDur, mBak Mega, serta  .. Pak Bambang.... hhm sik nanti dulu Tak pikir pikir, seluruh rakyat Indonesia yang masih mempunyai harga diri bangsa merasa sangat kecewa bahkan terluka dengan pidatonya kemarin, seolah olah kok martabat bangsa Indonesia seperti dijual demi kepentingan ekonomi. Harkat dan martabat bangsa harus diatas segalanya. IRONIS sekali, Negara belum mampu memberi kesejahteraan kesebagian rakyatnya, lantas mereka pergi ke Malaysia untuk mencari nafkah dan penghidupan, lalu penghasilan mereka, jadi pemasukan Negara, devisa, negara turut menikmati hasil jerih payah dan penderitaaan mereka dan ketika mereka bermasalah pemerintah acuh tak acuh. tentu saja kita tidak menghendaki perang tapi kita mengharapkan ketegasan sikap pemerintah atas pelecehan martabat bangsa. Tapi itu sangat sulit didapatkan dari seorang pemimpin yang lembek
|
 | nek aku ngga sesabar pak pres je mas |
 | .. Pak Bambang.... hhm sik nanti dulu Tak pikir pikir, seluruh rakyat Indonesia yang masih mempunyai harga diri bangsa merasa sangat kecewa bahkan terluka dengan pidatonya kemarin, seolah olah kok martabat bangsa Indonesia seperti dijual demi kepentingan ekonomi. Harkat dan martabat bangsa harus diatas segalanya. IRONIS sekali, Negara belum mampu memberi kesejahteraan kesebagian rakyatnya, lantas mereka pergi ke Malaysia untuk mencari nafkah dan penghidupan, lalu penghasilan mereka, jadi pemasukan Negara, devisa, negara turut menikmati hasil jerih payah dan penderitaaan mereka dan ketika mereka bermasalah pemerintah acuh tak acuh. tentu saja kita tidak menghendaki perang tapi kita mengharapkan ketegasan sikap pemerintah atas pelecehan martabat bangsa. Tapi itu sangat sulit didapatkan dari seorang pemimpin yang lembek 
segitu hebatnya ya boss kita? awww... *melongos*  segitu siriknya ya teman kita, mbak....hehehe.....males ah ngebahas, dan males bergabung dengan orang2 yg cuma pinter menghakimi..coba suruh orang2 yg banyak menilai itu berangkat perang, atau sehari memipin negara..sanggup nggak? berani nggak? punya nyali nggak?.. loh dah nulis n mbuka wacana tapi kok males mbahas ki piye ta Yu...?
yawis kalo gitu bukan mo ngebahas deh, mending tanya ajahh.....
emang sapa yang mo berperang itu, lalu sapa juga ya yang bernafsu tuk memimpin (apalagi ini) sebuah negara...? Trus salahkah saat rakyat ini menjadi oposisi sama sekali bukan menghakimi yang artinya secara tidak langsung berperan sebagai fungsi control karena dirasa dalam negeri yang katanya beralam demokrasi ini ternyata sudah tak ada lagi wakil rakyatnya yang mau memposisikan diri sebagai oposan..?
Lah kalo Bapaknya lembek bin gak teges juga gak tegas, bahkan kadang juga banyak mengeluh trus jatah ngeluhnya anak dari Ibu Pertiwi ini sama siapaa...? akankah anak-anak negeri ini mengeluh ke Bapaknya tetangga juga...?
Ini semua pertanyaan, tapi biar adil ku menempatkan diri kek sampean juga deh Yu... sama halnya pada saat sampean juga males membahasnya....maka pertanyaan2 itupun gak wajib buat dijawab juga lho kalo memang masih males ngejawabnya, sebagaimana (mungkin) temen2 kita akan mempersilahkan sampean untuk males bergabung dengan yang (sampean anggap) pinter menghakimi itu...
cheers n makasihhhh.... :) halah maz Trie ini, bisanya ngetik panjang lebar doang..Omdo ah....teori tok mas trie ini kalo ngomomng... dak usahlah muter2 ke oposan segla macem, mas....wong aku bicara juga hal simple koq, kalo bisa menghakimi ato protes, ya yang pantes lah, jangan cuma jago berkoar doang.....bisa nggak kasih solusi? |
| ada yang curhat!
*ngunyah ubi* |
 | Kayake teks pidato si bapak kemarin ketukar deh sama yang ini :) |
 | intine kudu jangan pake nafsu tree |
 | hahahaaaa... kena kan? :)) |
 | Ngerti apaan nenekkkk...? |
 | Negeri mana yang punya biota laut sejumlah 750 000 dari total 850 000 kekayaan laut dunia..? >> kog tahu biota laut indonesia segitu?
Semoga kita bisa memposisikan diri untuk mampu memahami bahwa seloyo dan selembek apapun, Rakyat dijunjung dan dimuliakan oleh pidato semua pemimpin bergelar Presiden itu >> jadi gapapa tuh pidato kemaren soal malaysia di mabes cilangkap?
endonesah raya merdeka merdeka, tanahku negriku yang ku cintaaaaa..
|
 | sedih bacana :( kapan kesadaran itu ada di mereka ya? |
 | Nulis tuh yang fokus dan terstruktur gitu lo Tri. Kebanyakan pesan, dan menyulamnya pake benang yg gak warna. Jadi ya agak susah merunutnya. lari-lari. Nek aku dewan jurine, gak tak pilih ki. |
 | Aku ngga milih bapak presidensinetron Indonesia....punya hobby curhat sih, dikit2 mellow..walah
|
 | sumpah pemuda yang manis dimulut... pokoe Indonesia juoosss... |
| |